Pages

Tulisan Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah


Di antara segelintir karya ulama kontemporer yang bisa saya baca dan pelajari, tulisan Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah menempati posisi paling menarik perhatian. Saya sangat merasa rugi tidak pernah bertemu dan mengambil ilmu dari beliau secara langsung, karena beliau sudah terlebih dulu meninggal sebelum saya datang ke tanah Arab.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan ketertarikan itu, di mana semua faktor itu bisa menjadi pelajaran tambahan di samping lautan ilmu yang beliau sampaikan. Pelajaran bagi setiap orang yang punya cita-cita mewariskan sesuatu yang bermanfaat bagi generasi sesudahnya. Di antaranya:
1. Pada setiap tulisan beliau, kita bisa merasakan nuansa rohani yang sangat tinggi. Yaitu rasa “muraqabatullah” yang selalu membimbing setiap huruf yang beliau bubuhkan. Hal itu sangat mempengaruhi jiwa orang yang membaca dan mempelajarinya.
2. Nuansa akhlak dan adab yang sangat mulia. Sangat menjaga lidah dari bahasa kasar, sekalipun beliau lagi mengkritisi orang lain. Tidak membuka aib, tapi meluruskan kesalahan dengan bahasa santun dan cara yang bijaksana. ‘Afiful lisan (lidah terhormat), inilah kata yang selalu muncul di benak saya bila disebutkan nama “Abdul Fattah Abu Ghuddah”.
3. Sangat detail, hati-hati dan profesional (itqan) dalam setiap tulisan yang beliau tahqiq atau beliau tulis sendiri. Nyaris tidak ada kesalahan satupun dalam setiap buku yang beliau tulis. Percetakannya pun dipilih yang paling bagus, sekalipun berimbas kepada harga yang jauh lebih mahal dari percetakan lain.
4. Buku yang beliau tulis tidak bisa diringkas lagi, seolah-olah semuanya isi. Tidak ada kalimat atau kata terbuang. Karena beliau memang menuliskan buah ranum dari ilmu-ilmu yang sudah beliau ketahui. Bagaikan lebah yang mengambil sari pati bunga, yang semuanya adalah gizi. Tidak perlu dipilah pilih lagi. Makanya para pecandu ilmu akan terlena dan hanyut dalam keasyikan ilmu bila membaca buku-buku karya beliau.
Beliau selalu berpesan kepada orang yang sudah mengambil manfaat dari bukunya supaya tidak lupa mengirimkan do’a buat beliau dan menyebutkan tentang kebaikannya. Karena sebutan yang baik adalah umur kedua bagi seseorang.
Semoga tulisan singkat ini bisa memenuhi kewajiban yang beliau pikulkan kepada pundak saya secara tidak langsung, karena sudah mengambil banyak manfaat dari tulisan-tulisan beliau.
-Zulfi Akmal-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Most Reading

Diberdayakan oleh Blogger.