Pages

Ketika Pandangan Terbalik


قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَآلِهِ وَ سَلَّمَ : ” كَيْفَ أَنْتُمْ إِذَا طَغَى نِسآءُكُمْ وَ فَسَقَ شُبَّانُكُمْ وَ تَرَكْتُمْ جِهَادَكُمْ ؟! ” ,
قَالُوْا : ” وَ إِنْ ذَلِكَ لَكَائِنٌ يَا رَسُوْل اللهِ ؟ ” ,
قَالَ : ” نَعَمْ , وَ الَّذِى نَفْسِيْ بِيَدِهِ وَ أَشَدُّ مِنْهُ سَيَكُوْنُ ” ,
قَالُوْا : ” وَ مَا أَشَدُّ مِنْهُ يَا رَسُوْل الله ؟ ”
قَالَ : ” كَيْفَ أَنْتُمْ إِذَا لَمْ تَأْمُرُوْا بِمَعْرُوْفٍ وَ لَمْ تَنْهَوْا عَنْ مُنْكَرٍ ؟! ” ,
قَالُوْا : ” وَ كَائِنٌ ذَلِكَ يَا رَسُوْل الله ؟ ” ,
قالَ : ” نَعَمْ , وَ الَّذِى نَفْسِيْ بِيَدِهِ وَ أَشَدُّ مِنْهُ سَيَكُوْنُ ” ,
قَالُوْا :” وَ مَا أَشَدُّ مِنْهُ يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ ” ,
قَالَ : ” كَيْفَ أَنْتُمْ إِذَا رَأَيْتُمُ اْلمَعْرُوْفَ مُنْكَراً وَ اْلمُنْكَرَ مَعْرُوْفاً ؟! ” ,
قَالُوْا : ” وَ كاَئِنٌ ذَلِكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ ” ,
قَالَ : ” نَعَمْ , وَ الَّذِى نَفْسِيْ بِيَدِهِ وَ أَشَدُّ مِنْهُ سيَكُوْنُ ” ,
قَالُوْا: ” وَ مَا أَشَدُّ مِنْهُ يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ ” ,
قَالَ : ” كَيْفَ أَنْتُمْ إِذَا أَمَرْتُمْ بِالْمُنْكَرِ وَنَهَيْتُمْ عَنِ اْلمُعْرُوْفِ ؟! ” ,
قَالُوْا : ” وَكَائِنٌ ذَلِكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ ” ,
قَالَ : ” نَعَمْ , وَ الَّذِى نَفْسِيْ بِيَدِهِ وَ أَشَدُّ مِنْهُ سَيَكُوْنُ , يَقُوْلُ الله تَعَالىَ ( بِيْ حَلِفْتُ , َلأُ تِيْحَنَّ لَهُمْ فِتْنَةً يَصِيْرُ اْلحَلِيْمُ فِيْهَا حَيْرَان )
______________________
”Rasulullah SAW bersabda : ” Bagaimana kamu, jika isteri-isterimu telah durhaka, dan para pemuda mu telah fasiq, dan kamu telah meninggalkan jihad ?! ”,
Shahabat bertanya : ” Apakah itu akan sungguh-sungguh terjadi, wahai Rasulullah ? ” ,
Nabi SAW menjawab : ” Ya, demi Dzat yang jiwaku ada ditangan-Nya, lebih dari itu akan terjadi ”,
Shahabat bertanya : ”Apa yang lebih dari itu, wahai Rasulullah ? ”,
Nabi SAW menjawab : ” Bagaimana kamu, jika kamu tidak lagi menyerukan kema’rufan dan mencegah kemunkaran ?! ” ,
Shahabat bertanya : ” Apakah itu akan terjadi, wahai Rasulullah ? ” ,
Nabi SAW menjawab : ” Ya, demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, lebih dari itu akan terjadi ”,
Shahabat bertanya : ” Apa yang lebih dari itu, wahai Rasulullah ? ” ,
Nabi SAW menjawab : ” Bagaimana kamu, jika kamu melihat yang ma’ruf menjadi munkar dan yang munkar menjadi ma’ruf ?! ”,
Shahabat bertanya : ” Apakah itu akan terjadi, wahai Rasulullah ? ” ,
Nabi SAW menjawab : ” Ya, demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, yang lebih dari itu akan terjadi ”,
Shahabat bertanya : ” Apa yang lebih dari itu, wahai Rasulullah ? ”,
Nabi SAW menjawab : ”Bagaimana kamu, jika kamu menyerukan kemunkaran dan mencegah kema’rufan ?! ”,
Shahabat bertanya : ” Apakah itu akan terjadi, wahai Rasulullah ? ” ,
Nabi bersabda : ” Ya, demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, yang lebih dari itu akan terjadi, Allah SWT berfirman : (Aku bersumpah demi Aku, akan Aku buka bagi mereka fitnah, di mana orang yang penyantun menghadapi fitnah itu menjadi kebingungan)”.
Takhrij hadits:
1. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ad-Dun-ya, bersumber dari Abu Umamah Al-Bahili ra, juga oleh Abu Ya’la, bersumber dari Abu Hurairah ra dengan sanad dhaif.
2. Al-Imam Al-Ghazali mencantumkan hadits di atas dalam karya besarnya, Ihya ‘Ulumiddin.
3. Al Muttaqi al Hindi di dalam kitab Kanzul 'Umal, hadits nomor 8470.
Sekalipun hadits di atas adalah hadits dha'if, tapi mari kita cermati kandungannya. Bukan kah apa yang diberitakan Rasulullah dalam sabdanya itu, semua betul-betul sudah menjadi kenyataan pada hari ini.
Ketika satu masalah diabaikan, maka masalah berikutnya akan muncul. Akibat kemungkaran tidak dicegah, akhirnya perasaan menjadi biasa saja terhadap kemungkaran tersebut. Setelah menjadi biasa, setan akan menghiasinya hingga kelihatan indah, karena sesuai dengan selera dan hawa nafsu. Di saat kemungkaran itu menjadi konsumsi biasa dan indah, tentu saja pelakunya akan mengajak orang lain melakukannya.
Akan timbullah celaan dan tuduhan: kuno, mundur ke zaman purba, tidak mengikuti perkembangan zaman, dan hinaan lainnya bagi orang yang mengingkari perbuatan maksiat tersebut.
-Zulfi Akmal-
READ MORE - Ketika Pandangan Terbalik

Menahan Diri Ketika Dalam Proses Pertunangan

Sepertinya seorang pemuda dan pemudi yang sudah dalam proses pertunangan lebih baik menahan diri dari menulis status di FB atau medsos lainnya. Kecuali kalau yang ditulis itu betul-betul hal yang jelas manfaatnya.
Karena pada masa-masa itu kedua belah pihak saling menilai apakah calonnya baik atau tidak, lanjut atau putus. Dan godaan untuk merusak sangat banyak pada saat-saat seperti itu.
Coba bayangkan bila yang ditulis itu adalah kegalauan, keluh kesah, dan ketidak puasan kepada ini dan itu, tentu orang akan mudah menilai kepribadian kita.
Akibatnya istikharah yang sudah mantap untuk menjatuhkan pilihan bisa buyar lagi melihat sesuatu yang kurang mengenakkan.
Semoga Allah memudahkan jodoh yang shaleh dan shalehah bagi setiap pemuda dan pemudi muslim.
Zulfi Akmal
READ MORE - Menahan Diri Ketika Dalam Proses Pertunangan

Masih Banyak Perempuan Mendambakan Laki-laki Shaleh

Suatu kali ketika membuka FB, yang muncul di layar saya di antaranya status seorang gadis, bunyinya kira-kira begini:
"Mendambakan seorang pemuda yang selalu shalat fardhu berjama'ah di mesjid, bagus tilawahnya dan tidak merokok. Alangkah langkanya laki-laki seperti ini di zaman sekarang".
Kolom komennya dipenuhi ungkapan setuju, juga mendambakan laki-laki seperti itu, kemana nak dicari? doa-doa, pokoknya harapan untuk itu.
Ternyata tidak semua perempuan menjadikan dambaan utamanya adalah laki-laki macho, gagah dan mapan. Masih muda sudah pakai ferrari. Tapi masih banyak yang mendambakan keshalehan dan akhlak.
Pertanyaan:
1. Apakah betul pemuda yang memiliki tiga kriteria itu sudah langka?
2. Sesulit itukah menjadi pemuda seperti itu hingga ia menjadi langka?
3. Di mana bisa didapatkan pemuda seperti itu?
4. Apakah para perempuan sudah siap menerima kehadiran pemuda seperti itu dengan keshalehan yang seimbang?
READ MORE - Masih Banyak Perempuan Mendambakan Laki-laki Shaleh

Tulisan Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah


Di antara segelintir karya ulama kontemporer yang bisa saya baca dan pelajari, tulisan Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah menempati posisi paling menarik perhatian. Saya sangat merasa rugi tidak pernah bertemu dan mengambil ilmu dari beliau secara langsung, karena beliau sudah terlebih dulu meninggal sebelum saya datang ke tanah Arab.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan ketertarikan itu, di mana semua faktor itu bisa menjadi pelajaran tambahan di samping lautan ilmu yang beliau sampaikan. Pelajaran bagi setiap orang yang punya cita-cita mewariskan sesuatu yang bermanfaat bagi generasi sesudahnya. Di antaranya:
1. Pada setiap tulisan beliau, kita bisa merasakan nuansa rohani yang sangat tinggi. Yaitu rasa “muraqabatullah” yang selalu membimbing setiap huruf yang beliau bubuhkan. Hal itu sangat mempengaruhi jiwa orang yang membaca dan mempelajarinya.
2. Nuansa akhlak dan adab yang sangat mulia. Sangat menjaga lidah dari bahasa kasar, sekalipun beliau lagi mengkritisi orang lain. Tidak membuka aib, tapi meluruskan kesalahan dengan bahasa santun dan cara yang bijaksana. ‘Afiful lisan (lidah terhormat), inilah kata yang selalu muncul di benak saya bila disebutkan nama “Abdul Fattah Abu Ghuddah”.
3. Sangat detail, hati-hati dan profesional (itqan) dalam setiap tulisan yang beliau tahqiq atau beliau tulis sendiri. Nyaris tidak ada kesalahan satupun dalam setiap buku yang beliau tulis. Percetakannya pun dipilih yang paling bagus, sekalipun berimbas kepada harga yang jauh lebih mahal dari percetakan lain.
4. Buku yang beliau tulis tidak bisa diringkas lagi, seolah-olah semuanya isi. Tidak ada kalimat atau kata terbuang. Karena beliau memang menuliskan buah ranum dari ilmu-ilmu yang sudah beliau ketahui. Bagaikan lebah yang mengambil sari pati bunga, yang semuanya adalah gizi. Tidak perlu dipilah pilih lagi. Makanya para pecandu ilmu akan terlena dan hanyut dalam keasyikan ilmu bila membaca buku-buku karya beliau.
Beliau selalu berpesan kepada orang yang sudah mengambil manfaat dari bukunya supaya tidak lupa mengirimkan do’a buat beliau dan menyebutkan tentang kebaikannya. Karena sebutan yang baik adalah umur kedua bagi seseorang.
Semoga tulisan singkat ini bisa memenuhi kewajiban yang beliau pikulkan kepada pundak saya secara tidak langsung, karena sudah mengambil banyak manfaat dari tulisan-tulisan beliau.
-Zulfi Akmal-
READ MORE - Tulisan Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah

Tarbiyah Akhlak Anak

Seorang ayah atau ibu ketika menghadapi kelakuan yang tidak menyenangkan dari anaknya ia bersedekah, atau memberi makan fakir miskin.

Lalu ia membaca:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ"

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteramanjiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". (At Taubah: 103)

Ya Allah, ini untuk mentarbiyah akhlak anakku, sesungguhnya kerusakan akhlaknya lebih menyakitkan bagiku dari pada kerusakan fisiknya.

Ibu yang lain tidak memiliki harta yang akan disedekahkan, hidupnya pas-pasan. Ketika ia lelah melihat perangai anak atau suaminya ia berdiri melakukan shalat dengan membaca surat al Baqarah keseluruhan.

Kemudian ia berdo'a: "Ya Allah, inilah sedekahku, maka terimalah, dan perbaikilah untukku anak-anakku dan suamiku". Barangkali kita perlu cara lain untuk mendidik anak dan mengatasi masalah keluarga.

Tidak cukup hanya dengan penerapan teori-teori mutakhir hasil penelitian para pakar. Meminta kepada Allah supayamereka dibimbing langsung oleh Allah tidaklah kalah pentingnya.

Fudhail bin 'Iyadh ketika sudah kelelahan mendidik anaknya, namun belum juga menampakkan hasil terhadap sikap anaknya, ia menadahkan tangan kelangit berdo'a, sembari terus memperbanyak ibadah.

Dia berkata: "Ya Allah, aku sudah putus asa mendidik anakku Ali. Ya Allah, didiklah ia untuk diriku".Allah Maha Kaya dan Maha Kuasa membolak-balikkan hati manusia.

Setelah berdo'a dan memasrahkan kepada Allah, kelakuan anaknya berubah dengan drastis. Dia mengikuti jejak ayahnya, menjadi orang yang paling shaleh di zamannya

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. (An Nisa': 9)

Zulfi Akmal

READ MORE - Tarbiyah Akhlak Anak

Kepalsuan Akan Terbongkar Dengan Sendirinya

Seorang pemuda yang tidak yakin terhadap kelebihan dirinya akan melakukan dusta-dusta ketika meminang seorang perempuan dengan menaikkan pamor dirinya. Cerita tentang pribadinya akan dilebihkan dari pada semestinya.

Tapi seorang pemuda yang percaya terhadap kualitas dirinya akan mengatakan apa adanya. Bahkan ia akan lebih memilih bila orang yang dipinang memandang dirinya lebih rendah dari yang semestinya. Supaya tidak jadi beban bila nanti betul-betul menjadi pasangan yang sah.

Amat mencengangkan orang yang menampilkan segala kepalsuan demi memiliki seorang gadis.

Apakah dia tidak khawatir kalau semua kepalsuan itu akan terbongkar dengan sendirinya ketika sudah tinggal seatap?

Itu baru urusan yang melibatkan antar pribadi. Bagaimana pula bila memaksakan kepalsuan dengan berbagai dusta demi sebuah jabatan yang akan mengayomi banyak manusia?

Makanya tidak heran bila para tertipu gigit tangan, eh gigit jari akibatnya.
READ MORE - Kepalsuan Akan Terbongkar Dengan Sendirinya

Di Hadapan Kemungkaran Manusia Terbagi 3 Kelompok

Di hadapan kemungkaran, manusia terbagi kepada tiga kelompok:

Kelompok pertama, orang yang jatuh sebagai pelaku kemungkaran.

Kelompok kedua, orang yang mengingatkan orang lain supaya jangan jatuh kepada kemungkaran, dan mengajak orang yang sudah terlanjur melakukannya untuk kembali kepada jalan yang benar.

Kelompok ketiga, orang yang tidak jatuh kepada melakukan kemungkaran, tapi mereka memiliki sifat apatis. Mereka bukannya mengingatkan orang yang sudah jatuh kepada kemungkaran supaya kembali kepada kebenaran, malah melarang orang yang mengingatkan dan menyuruh mereka supaya diam saja serta tidak mempermasalahkan mereka yang berbuat jahat.

Ungkapan mereka beragam untuk membuat orang malas dan pesimis seperti diri mereka. Bahkan bisa membuat orang yang berbuat baik malah merasa bersalah dan minder. Di antara ucapan beracun itu:"Urus saja diri sendiri, jangan urus orang lain. Jaga saja hati masing-masing, jangan perbuatan orang dicampuri. Jangan sok suci", dan banyak lagi ungkapan berbisa semacamnya.

Allah menyebutkan tiga tipe manusia ini dalam suratal A'raf ayat 164 - 165:

"Dan ingatlah ketika suatu umat di antara mereka berkata: "Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?" Mereka menjawab: "Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggungjawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertaqwa".

Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik".

Termasuk kelompok yang manakah kita?
READ MORE - Di Hadapan Kemungkaran Manusia Terbagi 3 Kelompok
 

Most Reading

Diberdayakan oleh Blogger.